Monday, January 13, 2020


MARSIGIT HERMAWAN PHILOSOPHY
ONTOLOGY, EPISTEMOLOGY, DAN AXIOLOGY
OF PRIMARY SCIENCE


Disusun untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Filsafat Pendidikan Sekolah Dasar yang diampu oleh Prof. Dr. Marsigit M.A., Prof. Ruyu Hung, Ph.D





Oleh
Hermawan Wahyu Setiadi
NIM 19706261012







PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DASAR S3
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2019
KATA PENGANTAR


Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan hidayah-Nya, serta petunjuk dan bimbingan yang telah diberikan, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Ontology, Epistemology, dan axiology of primary science” dengan baik.
Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan berupa bimbingan, arahan, motivasi dan do’a selama proses penulisan makalah ini. Ucapan terima kasih dan pengghargaan penulis sampaikan kepada Prof. Dr. Marsigit, MA dan Prof. Ruyu Hung, Ph.D selaku dosen pembimbing yang telah memberikan arahan dan motivasinya, sehingga penulisan makalah ini dapat terselesaikan.
Penulis menyadari dalam penulisan makalah ini jauh dari kata sempurna oleh karena itu, saran dan kritik yang bersifat positif guna penyempurnaan penulisan makalah ini sangat ditunggu oleh penulis. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan para pembaca.

Yogyakarta, Desember 2019

Penulis


DAFTAR ISI



Cover ..........................................................................................................   i
Kata Pengantar............................................................................................   ii
Daftar Isi......................................................................................................   iii

BAB I PENDAHULUAN............................................................................. 1
A.    Latar Belakang.................................................................................  1
B.    Rumusan Masalah............................................................................  2
C.    Tujuan..............................................................................................   2

BAB II PEMBAHASAN.............................................................................. 3
1.     Pengertian Kurikulum....................................................................... 3
2.     Ontologi Pembelajaran IPA SD......................................................... 5
3.     Epistimologi Pembelajaran IPA SD.................................................. 6
4.     Axsiologi Pembelajaran IPA SD......................................................  16

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN..................................................... 18
A.    Kesimpulan.......................................................................................  18
B.    Saran ................................................................................................  18

















BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan sebuah sarana penting dalam upaya peningkatan kualitas dari sumber daya manusia (SDM) dan merupakan langkah yang strategis untuk mewujudkan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Selain itu, tidak dapat dipungkiri peranan dari pendidikan dapat dikatakan merupakan sarana paling efektif untuk meningkatkan kualitas hidup dan derajat kesejahteraan masyarakat sehingga dapat mengantarkan sebuah bangsa dan negara untuk mencapai kemakmuran.
Hal ini sesuai tujuan pendidikan nasional tertuang dalam Pasal 3 Undang-Undang No.20 Tahun 2003 yakni mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Potensi peserta didik dalat ditingkatkan dengan maksimal melalui kegiatan pembelajaran di sekolah. Hal itu disebabkan karena adanya kurikulum yang dilaksanakan baik yang bersifat formal dan hiden kurikulum. Terkait dengan kurikulum formal di sekolah dasar terdapat berbagai macam mata pelajaran salah satunya adalah sains atau ilmu pengetahuan alam.
Pada praktiknya pembelajaran sains sangat erat hubungannya dengan lingkungan, karena cakupan materi dan kompetensi yang diharapkan memang mengarah kepada kemampuan siswa untuk memahami lingkungan dan makhluk hidup. 
Perkembangan zaman dan inovasi pendidikan pastilah ada sesuatu yang baru baik mengenai komponen atau tahapan implementasinya. Oleh karena itu, menarik akan kita bahas terkait dengan konsep pembelajaran sains dari aspek ontologi, epistimologi, dan axsiologi khsusunya di pendidikan dasar.


B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka dapat di susun rumusan masalahnya antaralain:
1.      Bagaimana konsep pembelajaran sains di sekolah dasar dilihat dari aspek ontologi?
2.      Bagaimana konsep pembelajaran sains di sekolah dasar dilihat dari aspek epsitimologi?
3.      Bagaimana pembelajaran sains di sekolah dasar dilihat dari aspek axiology?
C.    Tujuan
Berdasarkan uraian rumusan masalah di atas, maka dapat di susun tujuan penulisan makalah ini antaralain:
1.     Menjelaskan konsep pembelajaran sains di sekolah dasar dilihat dari aspek ontologi?
2.     Menjelaskan konsep pembelajaran sains di sekolah dasar dilihat dari aspek epsitimologi?
3.     Menjelaskan pembelajaran sains di sekolah dasar dilihat dari aspek axiology?













BAB II
PEMBAHASAN

1.     Pengertian Kurikulum
Istilah “kurikulum” memiliki berbagai tafsiran yang dirumuskan oleh pakar-pakar dalam bidang pengembangan kurikulum sejak dulu sampai dengan dewasa ini. Tafsiran-tafsiran tersebut berbeda-beda satu dengan yang lainnya, sesuai dengan titik berat inti dan pandangan dari pakar bersangkutan.
Ditinjau dari asal katanya, istilah kurikulum berasal dari bahasa Yunani yaitu curir, artinya “pelari” dan curere yang berarti “tempat berpacu”. Kurikulum berarti jarak yang harus ditempuh oleh pelari dari awal (start) sampai akhir (finish) untuk bisa mendapatkan penghargaan. Dalam dunia pendidikan, jarak tersebut diartikan program pendidikan yang berisi mata pelajaran. Dengan demikian, pengertian sederhana kurikulum dari bahasa aslinya yaitu program pendidikan berisi mata pelajaran yang harus ditempuh oleh siswa untuk bisa memperoleh ijazah (Zaenal Arifin, 2013:2-3).
Pada waktu itu, pengertian kurikulum ialah jangka waktu pendidikan yang harus ditempuh oleh siswa yang bertujuan untuk memperoleh ijazah. Dalam hal ini, ijazah pada hakikatnya menempuh kurikulum yang berupa rencana pelajaran, sebagaimana halnya seorang pelari telah menempuh suatu jarak antara satu tempat ke tempat lainnya dan akhirnya mencapai finish. Dengan kata lain, suatu kurikulum dianggap sebagai  jembatan yang sangat penting untuk mencapai titik akhir dari suatu perjalanan dan ditandai oleh perolehan suatu ijazah tertentu.
Pengertian lainnya dikemukakan oleh Hamalik (2008:16-17) kurikulum ialah sejumlah mata ajaran yang harus ditempuh dan dipelajari oleh siswa untuk memperoleh sejumlah pengetahuan mata ajaran (subject matter) dipandang sebagai pengalaman orang tua atau orang-orang pandai masa lampau, yang telah disusun secara sistematis dan logis. Misalnya, bakat pengalaman dan penemuan-penemuan masa lampau, maka diadakan pemilihan dan selanjutnya disusun secara sistematis, artinya menurut urutan tertentu, dan logis, artinya dapat diterima oleh akal dan pikiran. Mata ajaran tersebut mengisi materi pelajaran yang disampaikan kepada siswa, sehingga memperoleh sejumlah ilmu pengetahuan yang berguna baginya. Semakin banyak pengalaman dan penemuan-penemuan maka semakin banyak pula mata ajaran yang harus disusun dalam kurikulum dan harus dipelajarai oleh siswa disekolah.
Definisi yang terkait dengan kurikulum memberikan penekanan tertentu. Seperti definisi yang dirangkum oleh Marsh (2009:5) berikut: a) “Curriculum is all planned learnings for which the school is responsible”, b) “the totality of learning experiences provided to students so that they can attain general skills and knowledge at a variety of learning sites”. Dapat diartikan bahwa kurikulum adalah semua rencana pembelajaran yang menjadi tanggung jawab sekolah dan juga pengalaman yang diberikan kepada siswa dalam belajar sehingga mereka dapat mencapai keterampilan umum dan pengetahuan di berbagai materi pembelajaran.
Pengertian yang serupa dijelaskan dalam Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 dan peraturan pemerintah nomor 32 tahun 2013 menetapkan pengertian kurikulum sebagai: “seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”. Kurikulum berisi perencanaan dan pengaturan yang berisi tujuan, bahan ajar, cara yang ditempuh untuk mencapai tujuan yang digunakan sebagai pedoman pembelajaran. 
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa kurikulum merupakan rencana/program kegiatan pembelajaran yang berisi tujuan, isi, dan bahan/materi pelajaran yang akan memberikan pengalaman belajar bagi siswa, memberikan bekal keterampilan umum dan pengetahuan untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.



2.     Ontologi Pembelajaran IPA SD
Ontologi berasal dari bahasa Yunani  yaitu  Ontos  berarti yang berada (being) dan Logos berarti pikiran (logic). Jadi, Ontologi berarti ilmu yang membahas tentang hakiket sesuatu yang ada/berada atau dengan kata lain  artinya ilmu yang mempelajari tentang “yang ada” atau dapat dikatakan berwujud dan berdasarkan pada logika.  Sedangkan,  menurut istilah adalah ilmu yang membahas sesuatu yang telah ada, baik secara jasmani maupun secara rohani. Disis lain, ontologi filsafat adalah cabang filsafat yang membahas tentang prinsip yang paling dasar atau paling dalam dari sesuatu yang ada. Objek kajian Ontologi disebut “ Ada” maksudnya berupa benda  yang terdiri dari alam , manusia individu, umum, terbatas  dan tidak terbatas (jiwa). Di dalam ontologi juga terdapat  aliran yaitu  aliran monoisme yaitu segala sesuatu yang ada berasal dari satu sumber (1 hakekat).
Dalam aspek Ontologi diperlukan landasan-landasan dari sebuah pernyataan–pernyataan dalam sebuah  ilmu. Landasan-landasan itu biasanya kita sebut dengan Metafisika. Metafisika merupakan cabang dari filsafat yang menyelidiki gerakan atau perubahan yang berkaitan dengan yang ada (being). Dalam hal ini, aspek Ontologi menguak beberapa hal, diantaranya: 1) Obyek apa yang telah ditelaah ilmu?, 2) Bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut?, 3) Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir, merasa, dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan?, dan 4) Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu?
Selanjutnya dalam pendidikan IPA di sekolah dasar merupakan salah satu mata pelajaran yang dapat dijadikan dasar dalam pendidikan di sekolah yang diupayakan membantu pencapaian dari tujuan penyelenggaraan pendidikan. Pada dasarnya Ilmu Pengetahuan Alam dapat dikatakan berawal dari sebuah gejala alam, yaitu berupa fakta. Fakta-fakta tersebut hendaknya dapat diamati dalam aktifitas ilmiah (proses IPA) dan dengan prosedur serta sikap ilmiah yang digunakan untuk mengkajinya. Dari sebuah pengamatan fakta tersebut selanjutnya dihimpun dan dicatat sebagai data kemudian dari data itu dianalisis berdasarkan prosedur dan sikap ilmiah sehingga terbentuk berbagai konsep, prinsip, hukum, dan teori sebagaimana yang diungkapkan oleh Agustiana dan Tika (2013: 274).
Masih menurut Agustiana dan Tika (2013: 272-273) mengungkapkan bahwa hakikat pendidikan IPA memberi pengertian dan gambaran bahwa IPA tidak hanya meliputi ilmu pengetahuan tentang alam semesta akan tetapi mencakup pengertian proses penyelidikan dan perolehan sebuah ilmu. IPA sebagai produk dan proses tidak dapat dijadikan dua dimensi yang terpisah melainkan dua dimensi yang terjalin erat sebagai satu kesatuan dimana proses IPA akan menghasilkan produk IPA yang baru, dan pengetahuan-pengetahuan sebagai produk IPA akan memunculkan pertanyaan baru untuk diteliti melalui proses IPA, atau dapat dikatakan teori adalah sebuah produk dari IPA sekaligus suatu alat untuk memahami sebuah gejala alam yang merupakan keterampilan proses untuk mengkajinya. Keterampilan proses merupakan usaha seseorang yang melibatkan operasional mental, keterampilan, strategi dan lainnya yang dirancang manusia untuk menemukan hakikat alam semesta yang dapat dijabarkan melalui aktifitas antara lain: (1) mengamati, (2) menggolongkan, (3) menghubungkan bilangan, (4) mengukur, (5) menghubungkan ruang dan waktu, (6) mengkomunikasikan, (7) meramalkan, (8) membuat simpulan, (9) mendefinisikan secara operasional, (10) merumuskan hipotesis, (11) menafsirkan data, (12) mengidentifikasi mengendalikan variabel, dan (13) eksperimen.
Pendapat di atas selaras dengan apa yang digambarkan oleh Rudy (dalam Rizema, 2013: 58-60) mengenai tabel keterampilan yang dikembangkan dalam pendekatan sains yang dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini.
Tabel 1 Ragam Keterampilan Proses Sains
No
Keterampilan
Deskripsi

1
Mengamati (observing)
Menentukan sifat suatu objek atau peristiwa dengan menggunakan indra
2
Mengklasifikasi
(classifying)
Mengelompokkan objek atau peristiwa menurut sifatnya

3
Mengukur
(measuring)
Ragam keterampilan yang berupa:
a.     Menggambarkan secara kuantitatif menggunakan satuan pengukuran yang tepat.
b.     Memperkirakan
c.     Mencatat data kuantitatif
d.     Menghubungkan ruang atau waktu
4
Berkomunikasi
(communicating)
Menggunaan kata-kata tertulis dan lisan, grafik, tabel, diagram, dan presentasi informasi lainnya, termasuk yang berbasis teknologi
5
Menjelaskan atau menguraikan (inferring)
Menggambarkan kesimpulan tentang peristiwa tertentu berdasarkan pengamatan dan data, termasuk hubungan sebab dan akibat.
6
Meramalkan (predicting)
Mengantisipasi konsekuensi dari situasi yang baru dan berubah menggunakan pengalaman masa lalu dan observasi
7
Mengumpulkan mencatat, dan menafsirkan data (collecting, recording, and interpreting data)
Memanipulasi data, baik yang dikumpulkan oleh diri sendiri maupun orang lain, dalam rangka membuat informasi yang bermakna, kemudian menemukan pola informasi yang mengarah kepada pembuatan kesimpulan, ramalan, dan hipotesis.
8
Mengidentifikasi dan mengontrol variabel (identifying and controlling variables)
Mengidentifikasi variabel-variabel dalam suatu situasi sekaligus memilih variabel yang akan dimanipulasi dan variabel yang konstan
9
Definisi operasional (defining operationally)
Mendefinisikan istilah dalam konteks pengalaman sendiri yang terkait definisi dalam hal tindakan dan pengamatan
10
Membuat hipotesis (make hypotheses)
Mengusulkan penjelasan berdasarkan pengamatan.
11
Melakukan percobaan (experimenting)
Menyelidiki, memanipulasi bahan, dan pengajuan hipotesis untuk menentukan hasil
12
Membuat dan menggunakan model (making and using models)
Mewakili “dunia nyata” dengan menggunakan model fisik atau mental untuk memahami proses atau gejala yang lebih besar

Rizema (2013: 51-52) menyatakan bahwa hakikat Sains ada beberapa pengertian yang dapat dirangkum yaitu: (1) Sains adalah pengetahuan yang mempelajari, menjelaskan, serta menginvestigasi fenomena alam dengan segala aspeknya yang bersifat emperis. (2) Sains sebagai proses atau metode dan produk. Dengan menggunakan metode ilmiah yang sarat keterampilan proses, mengamati, mengajukan masalah, mengajukan hipotesis, mengumpulkan data dan menganalisis, serta mengevaluasi data dan menarik kesimpulan terhadap fenomena alam, maka akan diperoleh produk sains, misalnya fakta, konsep, prinsip dan generalisasi yang kebenarannya bersifat tentative. (3) Sains dapat dianggap sebagai aplikasi. Dengan penguasaan pengetahuan dan produk, sains dapat dipergunakan untuk menjelaskan, mengolah dan memanfaatkan, memprediksi fenomena alam, serta mengembangkan disiplin ilmu lainnya dan teknologi. (4) Sains mampu dianggap sebagai sarana untuk mengembangkan sikap dan nilai-nilai tertentu, misalnya nilai religius, skeptis, objektivitas, keteraturan, sikap keterbukaan, nilai praktis dan ekonomis, serta nilai etika atau estetika.
Dari uraian beberapa ahli di atas, maka dapat disimpulkan pada dasarnya hakikat sains atau IPA adalah sebuah pendekatan yang meliputi ilmu pengetahuan tentang alam semesta mencakup pengertian proses penyelidikan dan perolehan sebuah ilmu dengan menggunakan keterampilan untuk mencari dan menggali informasi berkaitan dengan pengetahuan, fakta, konsep, prinsip, dan penemuan produk dengan proses ilmiah sehingga dapat menjelaskan, mengolah dan memanfaatkan, memprediksi fenomena alam, mengembangkan disiplin ilmu dan teknologi serta sebagai sarana untuk mengembangkan sikap dan nilai-nilai tertentu.
Agustiana dan Tika (2013: 257-258) mengungkapkan bahwa pembelajaran IPA pada jenjang sekolah dasar diarahkan harus mampu membekali peserta didik dengan kemampuan seperangkat kompetensi, keterampilan, dan nilai yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk mengenal dirinya, lingkungan, dan tantangan masa depan yang akan dihadapinya. IPA berhubungan erat dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis sehingga IPA tidak hanya mementingkan penguasaan kumpulan yang berupa pengetahuan seperti fakta, konsep, atau prinsip saja, akan tetapi merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari dan memahami dirinya dan alam sekitar, serta produk pengembangan lanjut diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran IPA penting bagi peserta didik karena diperlukan untuk kehidupan sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan manusia melalui pemecahan masalah yang dapat diidentifikasikan. Pembelajaran IPA di SD diharapkan dapat membentuk penekanan pembelajaran “salingtemas” antara IPA, lingkungan, teknologi, dan masyarakat yang diarahkan pada pengalaman belajar untuk merancang dan menciptakan sebuah karya melalui penerapan konsep IPA dan kompetensi bekerja ilmiah secara bijaksana. Pembelajaran juga menekankan aktifitas pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui aplikasi dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah.
Menurut Rizema (2013: 53) mengungkapkan bahwa pembelajaran berbasis sains atau IPA adalah proses transfer ilmu dua arah antara guru sebagai pemberi informasi dan peserta didik sebagai penerima informasi dengan metode tertentu dengan tujuan agar pembelajaran dapat melibatkan konsep sains murni sebagai pendekatan sehingga pembelajaran akan menjadi lebih kreatif, dan peserta didik pun lebih aktif dalam proses pembelajaran.
Pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran IPA menurut kurikulum 2004 berorientasi pada peserta didik. Peran guru bergeser dari menentukan apa yang akan dipelajari menjadi bagaimana menyediakan dan memperkaya pengalaman siswa. Pengalaman belajar diperoleh melalui serangkaian kegiatan untuk mengeksplorasi lingkungan melalui interaksi aktif dengan teman, lingkungan dan narasumber lain. Depdiknas (2006: 8) menjelaskan ada beberapa pertimbangan lain yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan pembelajaran IPA di SD yaitu: (1) Empat pilar pendidikan (belajar untuk mengetahui, belajar untuk berbuat, belajar untuk hidup dalam kebersamaan dan belajar untuk menjadi dirinya sendiri). (2) Inquiri sains. (3) Kontruktivisme, (4) Sains, Lingkungan, teknologi dan masyarakat. (5) Pemecahan masalah dan pembelajaran sains yang bermuatan nilai. Peserta didik menjadikan pengalaman lebih relevan dan berarti dalam membangun pengetahuannya dalam pembelajaran. Peserta didik mempelajari materi pelaja          ran yang disajikan melalui konteks kehidupan mereka, dan menemukan arti di dalam proses pembelajaran tersebut.
3.     Epistimologi Pembelajaran IPA SD
Secara etimologi, epistemologi merupakan kata gabungan yang diangkat dari dua kata dalam bahasa Yunani yaitu episteme dan logos. Episteme berarti pengetahuan atau kebenaran dan logos berarti pikiran, kata atau teori. Epistimologi dapat juga diartikan sebagai teori pengetahuan yang benar (teori of knowledges). Epistimologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang asal muasal, sumber, metode, struktur dan validitas atau kebenaran pengetahuan.
Istilah epistimologi dipakai pertama kali oleh J. F. Feriere untuk membedakannya dengan cabang filsafat lain yaitu ontologi (metafisika umum). Filsafat pengetahuan (Epistimologi) merupakan salah satu cabang filsafat yang mempersoalkan masalah hakikat pengetahuan. Epistomogi merupakan bagian dari filsafat yang membicarakan tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan asal mula pengetahuan, batas–batas, sifat sifat dan kesahihan pengetahuan. Objek material epistimologi adalah pengetahuan . Objek formal epistemologi adalah hakekat pengetahuan.
Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa epistimologi adalah cabang ilmu menjelaskan tentang bagaimana mencari pengetahuan dan seperti apa pengetahuan tersebut dapat diketahui oleh manusia. Adapun dalam pendidikan IPA di sekolah dasar dapat dipaparkan terkait dengan keberadaan dari IPA di sekolah dasar dan cara mencapainya dapat dilihat melalui kurikulum dan aktifitas pembelajaran.

Tabel 1Struktur Kurikulum Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah

MATAPELAJARAN
ALOKASI WAKTU PER MINGGU
I
II
III
IV
V
VI
Kelompok A

1.
Pendidikan Agama dan Budi Pekerti
4
4
4
4
4
4
2.
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaran
5
5
6
5
5
5
3.
Bahasa Indonesia
8
9
10
7
7
7
4.
Matematika
5
6
6
6
6
6
5.
Ilmu Pengetahuan Alam
-
-
-
3
3
3
6.
Ilmu Pengetahuan Sosial
-
-
-
3
3
3
Kelompok B

1.
Seni Budaya dan Prakarya
4
4
4
5
5
5
2.
Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan
4
4
4
4
4
4
JUMLAH ALOKASI WAKTU PER MINGGU
30
32
34
36
36
36

Adapun cara untuk membelajarkan IPA disekolah dasar anataralain dengan menerapkan Strategi dan Metode Pembelajaran IPA di SD. Untuk macam-macam jenisnya dapat dijelaskan sebagai berikut.
a.     Srategi Pembelajaran IPA di SD
Dalam dunia pendidikan, strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai pola umum atau perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Sebelum menentukan strategi pembelajaran, perlu dirumuskan tujuan yang jelas yang dapat diukur keberhasilannya. Namun kita perlu mengingat bahwa tidak seua strategi pembelajaran cocok digunakan untuk mencapai semua tujuan dan semua keadaan.
           1) Strategi Pembelajaran Langsung
Strategi ini adalah yang paling banyak digunakan oleh guru. Strategi ini efektif untuk menentukan informasi atau membangun keterampilan tahap demi tahap. Kelebihan strategi ini adalah mudah untuk direncanakan dan digunakan oleh guru. Sedangkan kelemahannya adalah siswa dituntut memiliki sikap yang diperlukan untuk pemikiran kritis.
                 2) Strategi Pembelajaran Tak Langsung
Strategi ini berlawanan dengan strategi pembelajaran langsung. Strategi pembelajaran tak langsung biasanya berpusat pada siswa. Pada strategi ini guru berperan sebagai fasilitator, yang mengelola lingkungan belajar dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat langsung dalam pembelajaran.
Kelebihan strategi ini adalah mendorong kreativitas dan pengembangan keterampilan interpersonal dan memberikan pemahaman yang lebih baik kepada siswa. Sedangkan kelemahannya adalah  memerlukan waktu yang panjang dalam penerapannya.
3)  Strategi Pembelajaran Interaktif
Strategi ini menekankan pada diskusi dan sharing diantara peserta didik. Kegiatan seperti ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat saling berbagi pengalaman yang mereka miliki dalam mengerjakan suatu tugas. Kelebihan strategi ini adalah siswa dapat belajar dari temannya dan gurunya dan belajar menghargai pendapat temannya. Sedangkan kekurangannya adalah bahwa pembelajaran sangat bergantung pada kecakapan guru dalam menyusun dan mengembangkan dinamika kelompok.
4)   Strategi Pembelajaran Empiric
Strategi ini berpusat pada siswa dan berbasis aktivitas. Kelebihan strategi ini adalah  meningkatkan partisipasi siswa, meningkatkan sifat kritis siswa. Sedangkan kelemahannya adalah penekanan hanya pada proses bukan pada produk dan memerlukan waktu yang panjang.
5)   Strategi Pembelajaran Mandiri
Strategi ini bertujuan untuk membangun inisiatif individu, kemandirian, dan peningkatan diri. Stratgi ini kurang cocok sebenarnya untuk anak SD tapi tidak salah apabila digunakan. Kelebihan strategi ini adalah membentuk peserta didik yang mandiri dan bertanggungjawab. Sedangkan kelemahannya adalah memerlukan pemikiran yang kritis dan pemikiran yang dewasa, sehingga sulit menggunakannya untuk anak usia SD.



b.     Metode Pembelajaran IPA di SD
Metode adalah cara yang digunakan oleh guru untuk mengaplikasikan strategi belajar yang sudah ditentukan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
1)  Metode Diskusi
Metode diskusi adalah metode dimana guru membagi siswa dalam beberapa kelompok, kemudian memberikan suatu persoalan atau masalah untuk dipecahkan secara bersama-sama dengan teman satu.
                 2) Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi adalah metode mengajar yang digunakan guru dengan menggunakan peragaan untuk memperjelas suatu pengertian ataupun konsep-konsep IPA kepada siswa. Metode mengajar yang seperti ini sangat disukai oleh siswa karena adanya pergerakan pada proses belajar-mengajar.
                 3)  Metode Tanya Jawab
Metode Tanya jawab adalah cara penyajian bahan ajar dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang memerlukan jawaban untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
                4)   Metode Eskperimen
Metode pembelajaran eksperimen adalah cara pengelolaan pembelajaran dimana siswa melakukan aktivitas percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri konsep IPA yang dipelajarinya.
                 5)  Metode Study Tour  
Metode ini adalah metode mengajar dengan mengajak peserta didik mengunjungi suatu objek guna memperluas pengetahuan dan selanjutnya peserta didik membuat laporan dan mendiskusikan serta membukukan hasil kunjungan dengan didampingi oleh pendidik.
                 7) Metode Resitasi
Metode pembelajaran resitasi adalah metode pengajaran dengan mengharuskan siswa membuat resume dengan kalimat sendiri.

c.     Beberapa Pendekatan Dalam Pembelajaran IPA di SD
Pendekatan pembelajaran adalah titik tolak (guru) terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran.
    1) Pendekatan Ekspositori
Pendekatan ini lebih bersifat “memberi tahu”. Artinya guru lebih dominan dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini siswa bersifat pasif, hanya  menerima pelajaran yang diberikan oleh guru. Yang dilakukan guru pada pendekatan ini umumnya adalah memberi ceramah, mendemonstrasikan sesuatu dan lain-lain. Keuntungan dengan menggunakan pendekatan ini adalah bahwa bahan pelajaran dapat diselesaikan dengan cepat dan dimengerti oleh siswa. Pendekatan ini dapat digambarkan sebagai DDCH (Duduk, Dengar, Catat, Hafal). Sehingga dalam pendekatan ini gurunya aktif sedangkan siswanya pasif.
                 2)  Pendekatan Inkuiri
Pendekatan ini lebih bersifat “mencari tahu”. Artinya siswa sangat aktif mencari sendiri informasi yang ia perlukan. Dalam pendekatan ini dominasi guru lebih sedikit. Dari penjelasan tersebut, dapat kita ketahui bahwa pendekatan inkuari bertolak belakang dengan pendekatan ekspositori. Pendekatan ini menginginkan keaktifan siswa untuk memperoleh informasi sampai menemukan konsep-konsep IPA. Dalam pendekatan ini guru membimbing siswa menemukan sendiri konsep-konsep itu melalui kegiatan belajarnya.
                 3)  Pendekatan Konsep
Konsep adalah suatu ide yang menghubungkan beberapa fakta. Dalam pencapaian atau pembentukan konsep biasanya peserta didik memerlukan benda-benda konkrit untuk diotak-atik, eksplorasi fakta-fakta dan ide-ide secara mental. Pendekatan konsep memerlukan lebih dari sekedar menghafal, lebih menunjukkan gambaran yang lebih tepat tentang IPA.
                  4)  Pendekatan Factual
Pendekatan ini menekankan penemuan fakta-fakta dalam IPA . contoh informasi yang didapatkan murid dengan pendekatan ini, misalnya ular termasuk golongan reptil, merkurius adalah planet yang terdekat dengan matahari. Metode yang digunakan dalam pendekatan ini adalah membaca, mengulang, melatih dan lain-lain.  Pada dasarnya pembelajaran IPA dengan pendekatan ini akan menimbulkan kebosanan pada diri murid-murid dan tidak memberikan gambaran yang benar tentang IPA.  

4.     Axsiologi Pembelajaran IPA SD
Aksiologi adalah istilah yang berasal dari kata Yunani yaitu: axios yang berarti nilai. Sedangkan logos berarti teori/ ilmu. Aksiologi merupakan cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya. Aksiologi dipahami sebagai teori nilai. Aksiologi sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh. Aksioloagi adalah ilmu yang membecirakan tentang tujuan ilmu pengetahuan itu sendiri. Jadi, aksiologi merupakan ilmu yang mempelajari hakikat dan manfaat yang sebenarnya dari pengetahuan, dan sebenarnya ilmu pengetahuan itu tidak ada yang sia-sia kalau kita bisa memanfaatkannya dan tentunya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan dijalan yang baik pula karena akhir-akhir ini banyak sekali yang mempunyai ilmu pengetahuan yang lebih itu dimanfaatkan dijalan yang tidak benar.
Pembahasan aksiologi menyangkut masalah nilai kegunaan ilmu. Ilmu tidak bebas nilai. Artinya pada tahap-tahap tertentu kadang ilmu harus disesuaikan dengan nilai-nilai budaya dan moral suatu masyarakat, sehingga nilai kegunaan ilmu tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat dalam usahanya meningkatkan kesejahteraan bersama, bukan sebaliknya malah menimbulkan bencana.
Pembelajaran IPA di SD ditujukan untuk memberi kesempatan siswa memupuk rasa ingin tahu secara alamiah, mengembangkan kemampuan bertanya dan mencari jawaban atas fenomena alam berdasarkan bukti, serta mengembangkan cara berpikir ilmiah. Tujuan mata pelajaran IPA di SD/MI berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan adalah : 1) memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan dan keteraturan alam ciptaan-Nya, 2) mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, 3) mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, teknologi dan masyarakat, 4) mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan, 5) meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam, 6) meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan, dan 7) memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan keterampilan IPA sebagai dasar melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi (Mulyasa, 2006 : 111).












BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Hakikat sains atau IPA adalah sebuah pendekatan yang meliputi ilmu pengetahuan tentang alam semesta mencakup pengertian proses penyelidikan dan perolehan sebuah ilmu dengan menggunakan keterampilan untuk mencari dan menggali informasi berkaitan dengan pengetahuan, fakta, konsep, prinsip, dan penemuan produk dengan proses ilmiah sehingga dapat menjelaskan, mengolah dan memanfaatkan, memprediksi fenomena alam, mengembangkan disiplin ilmu dan teknologi serta sebagai sarana untuk mengembangkan sikap dan nilai-nilai tertentu.
Epistimologi adalah cabang ilmu menjelaskan tentang bagaimana mencari pengetahuan dan seperti apa pengetahuan tersebut dapat diketahui oleh manusia. Adapun dalam pendidikan IPA di sekolah dasar dapat dipaparkan terkait dengan keberadaan dari IPA di sekolah dasar dan cara mencapainya dapat dilihat melalui kurikulum dan aktifitas pembelajaran. Adapun cara untuk membelajarkan IPA disekolah dasar anataralain dengan menerapkan Strategi , Pendekatan dan Metode Pembelajaran IPA di SD.
Sains di sekolah dasar ditujukan untuk memberi kesempatan siswa memupuk rasa ingin tahu secara alamiah, mengembangkan kemampuan bertanya dan mencari jawaban atas fenomena alam berdasarkan bukti, serta mengembangkan cara berpikir ilmiah.

B.    Saran
1.     Pembelajaran sains di sekolah dasar hendaknya dapat memahami aspek filsatat yang terdiri dari ontologi, epsitimologi, dan axsiologi sehingga pembelajaran yang dilakukan bermakna bagi siswa.



DAFTAR PUSTAKA


Cheung, A.C.K. & Wong, P.M. (2012). Factors affecting the implementation of curriculum reform in Hong Kong Key findings from a large-scale survey study. International Journal of Educational Management Vol. 26 No. 1, 2012 pp. 39-54

Hamalik, O. (2008). Manajemen pengembangan kurikulum. Bandung: Remaja Rosdakarya.
           , (2004). Model-Model Pengembangan Kurikulum. Bandung. PPs Universitas Pendidikan Indonesia 
(UPI).



Marsh, C.J. (2009). Key concepts for understanding curriculum (4th ed). New York. Routledge.

Mendikbud. (2013). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayan RI No. 32 tahun 2013 tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

McNeil & John D. 2006. Contemporary Curriculum. New York : John Willey & Son.

Rebuplik Indonesia. (2003). Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Sukmadinata, Nana Syaodih. (2000). Pengembangan Kurikulum. Bandung: Remaja Rosdakarya.

                    , (1997). Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek. Bndung: PT. Remaja Rosdakarya

Zaenal Arifin. (2013). Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset.



1 comment: